Tuesday, October 24, 2006

Koq Lebarannya Bisa Beda Seh?

Hmm...
Pertanyaan itu yg dilontarkan temen2 saya, beberapa temen saya gelisah dan cenderung bingung dalam melaksanakan sholat Idul Fitri. Sesuai dengan janji saya, maka saya menulis artikel ini. Bukan bermaksud menggurui ato sok pintar tapi ini lah segelumit pemikiran saya yg saya tuangkan dari sisi historis dan berbagai disiplin ilmu. Semoga temen2 gak bingung lage dan yg paling penting temen2 gak mengurangi makna " Hari Kemenangan ".

Dalam kumpulan hadits shahih dari Bukhari dan Muslim kita dapatkan dalil-dalil sebagai berikut:
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi berkata: "Mulailah dan akhirilah puasa, segera jika kalian lihat rembulan baru. Dan jika langit berawan dan pengamatan rembulan tidak memungkinkan, lengkapi jumlah hari bulan Sya'ban 30 hari"
Diriwayatkan oleh Ibnu 'Umar, Nabi berkata: "Kita ini adalah kaum yang buta huruf, kita tidak menulis dan kita tidak menghitung. Dan bulan itu kadang 29 dan kadang 30 hari". Seorang Arab Badui (penghuni tepi gurun pasir) datang kepada Nabi dan melaporkan telah melihat rembulan baru. Nabi menyuruhnya memperkuat kesaksiannya dengan membaca syahadat. Setelah itu Nabi lalu mengumumkan esoknya mulai puasa.

Latar Belakang ummat Nabi pada masa itu
---------------------------------------
Perlu kita ketahui, bahwa ummat Nabi pada masa itu umumnya berasal dari kalangan bawah, lagi pula di jazirah Arab, ilmu matematika (yang melandasi astronomi) belum banyak diketahui. Adalah sebuah rahmat, bahwa cukuplah melihat rembulan untuk menentukan saat-saat ibadah.
Andaikata Nabi menyuruh ummatnya untuk menggunakan astronomi (yang pada masa itu cuma dikuasai bangsa Mesir, Yunani atau Persia), tentu saja hal itu akan sangat menyulitkan ummat. Lebih dari itu, pada masa itu ilmu astronomi masih sangat primitiv dan bercampur aduk dengan astrologi yang dipakai orang untuk meramal masa depan. Dengan demikian, ketidakberadaan sarana teknis pada masa itu(seperti jam, kalender, kompas, listrik radio, apalagi satelit)
membuat penduduk jazirah Arab setiap hari menengok ke langit. Apakah itu sekedar untuk mengetahui "sudah tibakah waktu sholat shubuh" hingga untuk tidak tersesat dalam perjalanan mengarungi gurun pasir yang formasinya berubah-rubah tiap hari oleh angin. Luar biasa kalau
kita bayangkan, mengarungi gurun pasir dari Mekkah ke Syam, ribuan kilometer, tanpa jam, tanpa kompas, apalagi radar... Semua orientasi hanya dengan melihat bintang-bintang di langit - meski mereka tidak tahu hukum matematis gerak gerik benda langit itu. Karena itu, wajar sekali bila penduduk gurun pasir dalam keadaan seperti itu tahu benar, seperti apa rembulan baru tanda mulainya Ramadhan!

Tinjauan Fiqh
-------------
Sebagian ulama berpendapat bahwa ucapan Nabi pada dua hadits pertama di atas tadi sebagai keharusan untuk melihat rembulan (Ru'yatul hilal) dan mereka menolak hitungan astronomi bahkan menganggapnya bid'ah (ide baru) yang sesat. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa pernyataan Nabi pada hadits ke-2 itu tidak berarti melarang orang menghitung. Andaikata dengan dalil itu menghitung dilarang, maka konsekuensinya menulis juga dilarang. Padahal Nabi sendiri pernah meminta tawanan perang Badr untuk mengajari ummat Islam membaca dan menulis. Sedangkan astronomi modern pada masa kini sudah sedemikian telitinya. Buktinya dengan ilmu tersebut manusia sudah berhasil pergi ke bulan dan pulang dengan selamat. Karena itu, menurut pendapat ini, haruslah ummat Islam saat ini mau menggunakan computasi astronomi yang dijamin lebih aman dari kesalahan. Perdebatan ini berlangsung terus dan kadang-kadang sering merambat di luar masalah aslinya, dan akibatnya ummatlah yang kebingungan. Hal itu karena mayoritas ulama ahli fiqh kurang mengetahui astronomi modern yang sesungguhnya, dan mereka yang suka, sering hanya terpana mendengar kecanggihan teknologinya, tanpa benar-benar mengetahui hakekatnya.

Astronomi modern
----------------
Kemajuan astronomi sampai ke bentuknya saat ini, tak lepas dari ilmu falak di masa kejayaan Islam. Sejak Al-Qur'an menyebut-nyebut secara khusus benda langit, bahkan dipakai sebagai nama-nama surat: misalnya Al-Buruj (galaksi), An-Najm (bintang), Al-Qomar (rembulan), Asy-Syams (matahari), maka sejak itu umat Islam banyak melakukan riset. Maka muncullah sederet astronom muslim abad pertengahan seperti: Al-Khawarizm, Al-Farghani, Al-Batani dsb.
Fase-fase rembulan menggambarkan letak rembulan di ekliptika. Secara astronomi, rembulan baru, terjadi bila bujur ekliptisnya adalah 0(nol) deg artinya matahari dan rembulan berada dalam satu arah. Peristiwa ini disebut konjungsi (conjunction). Sebagai catatan,
istilah rembulan baru ini tidaklah sama dengan bulan baru dalam kalender Islam.

Ru'yah versus Hisab
-------------------
Astronomi modern mampu menghitung fase-fase rembulan serta posisi rembulan dan matahari dengan ketelitian yang sangat mengagumkan. Lalu bisakah hitungan astronomi modern (hisab) menggantikan Ru'yatul hilal? Selama hisab masih memungkinkan kesalahan, sudah barang tentu
tidak. Hisab akan bertentangan dengan ru'yah jika dan hanya jika satu dari dua hal dibawah ini atau dua-duanya masih terjadi. Yaitu :
- Ketelitian hisab belum memadai.
- Pelaksanaan/laporan ru'yah yang tidak benar.
Andaikan hisab bisa dilakukan secara eksak dan begitu juga ru'yah yang dilakukan adalah benar maka tidaklah akan terjadi pertentangan antara dua metode ini. Untuk mendapatkan kesamaan antara ru'yah dan hisab, kita bisa lakukan hal-hal berikut ini

Ru'yah
------
Berbeda dengan ummat di masa Nabi yang setiap hari menengok ke langit, kita di abad-21 ini dapat dikatakan sudah "dimanja" oleh teknologi. Untuk mengerjakan sholat, kita tak lagi perlu keluar rumah untuk menengok langit, karena ada jam dan jadwal sholat. Untuk bepergian ada peta, kompas bahkan radar. Pendeknya, hampir tak pernah lagi kita menengok langit untuk orientasi waktu dan arah. Sementara itu, kehidupan di kota membuat kita makin susah untuk
mengamati langit tanpa terganggu oleh pantulan dan biasan cahaya listrik di awan. Belum dengan adanya benda langit buatan manusia, entah itu pesawat, balon atau satelit. Karena itu, bila seseorang pada zaman ini ingin melakukan Ru'yatul hilal (yang barangkali cuma ia lakukan 2 kali setahun), maka ia harus mengetahui cara-caranya.

Persiapan data, agar ru'yatul hilal lebih efisien.
--------------------------------------------------
1. Ru'yatul hilal dilakukan hanya tanggal 29 Sya'ban. Tentu saja dalam hal ini kalender yang digunakan harus beres. Secara obyektif astronomis, ru'yatul hilal ini harus dilakukan pada hari terjadinya konjungsi antara rembulan dan matahari.
2. Saat terbenam rembulan dan matahari serta kemungkinan arah dan ketinggiannya harus diketahui, karena waktunya singkat.
3. Pemilihan lokasi yang tinggi dan tidak terhalang bangunan atau pepohonan, misal di lepas pantai.
4. Ru'yah hanya terjadi bila matahari ada di sebelah barat rembulan atau dengan kata lain matahari terbenam mendahului rembulan. Hilal akan terlihat di ufuk barat dan hanya bagian yang menuju matahari yang bersinar tipis.
5. Waktu ru'yatul hilal adalah antara waktu terbenamnya matahari dan waktu terbenamnya rembulan. Jika matahari belum terbenam, cahayanya akan menyilaukan pengamat untuk melihat cahaya rembulan yang masih lemah. Sudah barang tentu, hisab disini mempunyai kedudukan penting dalam hal kesuksesan dan kemudahan ru'yah.

Hisab
-----
Astronomi modern yang mampu menghitung fase rembulan sampai ketelitian beberapa detik adalah sudah lebih dari cukup. Yang menjadi problem hisab adalah mendefinisikan hilal, yakni kapan rembulan setelah konjungsi itu bisa terlihat di atas ufuk dengan mata telanjang. Tentu selama definisi ini masih tidak pasti, akan banyak mempengaruhi hasil-hasil perhitungan. Terlihatnya hilal secara astronomis ini bisa didefinisikan bermacam-macam, misalnya sbb:
- Cukup rembulan sudah di atas ufuk
- Tinggi rembulan minimum lima derajat.
- Fase pencahayaan rembulan mencapai 4%.
- Umur bulan sejak konjungsi minimal 13 jam.
Belum ada penelitian yang serius tentang hal ini, karena hal terlihatnya rembulan dengan mata telanjang itu bergantung juga pada faktor cuaca, kondisi fisik pengamat, adanya cahaya pengganggu dll, yang tidak sekedar persoalan astronomi. Dan ketidak-pastian definisi ini merupakan salah satu penyebab penting mengapa hisab bertentangan dengan ru'yah.

Masalah Global dan Lokal
------------------------
Hasil Hisab maupun Ru'yatul hilal akan berbeda-beda tergantung posisi pengamat atau faktor tempat yang dimasukkan ke dalam hisab. Sebenarnya perbedaannya tidak lebih dari 24 jam. Namun karena perbedaan daerah waktu, maka perbedaan effektifnya bisa mencapai 2hari. Dan pada hari yang sama daerah yang terletak di sebelah barat, lebih besar kans-nya untuk melihat rembulan dari pada daerah disebelah timurnya, karena pada saat sunset di sana, umur bulan sudah lebih tua dari pada saat sunset di daerah sebelah timurnya. Kita ingat, bumi berputar dari barat ke timur. Karena itu bila dari Indonesia rembulan baru terlihat sehari setelah Marokko, itu wajar sekali. Yang tidak wajar dan jelas ada yang salah, adalah bila selisihnya dua hari, atau bila di Indonesia hal itu terlihat, dan di Marokko belum. Pada zaman komunikasi global pada saat ini, di mana peristiwa terlihatnya hilal di Marokko bisa langsung diterima dengan telepon di Indonesia, hal ini kembali mengundang pertanyaan fiqh:
Mestikah Indonesia menunggu laporan dari daerah di sebelah baratnya, bila pada 29 Sya'ban atau 29 Ramadhan itu hilal dari Indonesia belum terlihat? Tidak cukupkah hadits Nabi yang menyuruh menggenapkan bulan 30 hari?
Andakata kita harus menunggu laporan dari daerah di sebelah barat kita, tidak jelas pula kapan dead line (waktu tenggat)-nya. Pada saat hilal tampak di Marokko (waktu Maghrib), di Indonesia sudah lewat tengah malam. Lebih payah lagi bila hilal itu terlihat di Los Angels - di Indonesia sudah terlanjur siang. Laporan dari seberang benua itu hanya mungkin dipakai bila berasal dari daerah di sebelah timur kita. Artinya, bila Jakarta sudah melihat hilal, maka seluruh daerah dan negara di sebelah baratnya harus mengikutinya. Namun Papua Nugini yang lebih timur dari Indonesia tidak harus.

Kesimpulan
----------
Perbedaan 1 Syawal yang sering terjadi selama ini ditimbulkan dari:
* Perbedaan fiqh mengenai boleh-tidaknya penggunaan hitungan atau hisab (termasuk hitungan astronomi modern) dalam penentuan awal Ramadhan atau 1 Syawal.
* Kesalahan yang dilakukan oleh pengamat Ru'yatul hilal yang kurang terlatih karena tidak lagi biasa mengamati langit dalam kehidupan sehari-hari.
* Kesalahan hitungan/hisab yang antara lain karena ketidakpastian definisi, yang mengakibatkan kesalahan kalender yang dicetak jauh-jauh hari dan tidak dicocokkan kembali dengan hilal setiap bulannya.
* Kekurangfahaman mengenai pengaruh letak geografis yang menyebabkan perbedaan baik hasil hisab maupun Ru'yatul hilal serta belum adanya konsensus tentang pemecahan masalah ru'yah/hisab lokal dan global.

Dengan tahu latar belakang permasalahan ini hendaknya kita sesama ummat Islam bisa saling hormat menghormati sesama muslim, meski mereka memulai puasa dan berhari-raya pada saat yang berbeda dengan kita, sepanjang itu sesuai dengan keyakinan mereka. Allah akan menerima ibadah yang dilandasi keikhlasan, dan mengampuni dosa yang disebabkan oleh keawaman. Tugas mereka yang diberi ilmulah untuk menyampaikan ilmu, dan tugas para penguasalah untuk memutuskan sesuatu berdasarkan ilmu.

Daftar Pustaka:
---------------
-King, D.A. : Islamic Mathematical Astronomy. Variorum Reprint London, 1986.
-Nautical Almanac Office.: Supplement to the Astronomical Ephemeris and Nautical Almanac. Her Majesty's Stationery Office 1961.
-Qardhawi, Y.: Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw. Karisma, Bandung,1993.
-The ASTRONOMICAL ALMANAC Data for Astronomy, Space Sciences, Geodesy, Surveying, Navigation and other applications.
Her Majesty's Stationery Office, 1980-1993.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home